Telaga Air Merah: Ketika Mimpi dan Kreativitas Menyulap Waduk Lama Jadi Destinasi Mempesona

Senin, 22 September 2025

Ket foto: Telaga Air Merah di Desa Tanjung tampak dipadati pengunjung saat liburan (ist).

Udara segar, pepohonan rindang, dan permukaan air yang berkilau di bawah sinar matahari membuat siapa pun betah berlama-lama di Telaga Air Merah. Suasananya menenangkan, seolah merangkul setiap pengunjung yang datang. Di sini, orang bisa bersantai, berfoto, atau menikmati beragam wahana rekreasi keluarga.

Namun siapa sangka, destinasi yang kini ramai dikunjungi itu dulunya hanyalah bekas waduk PDAM yang ditinggalkan, diselimuti belukar, sunyi, angker, dan nyaris terlupakan.


Laporan : Masnur, Selatpanjang

Pagi itu, sekelompok pemuda Desa Tanjung tampak sibuk menata kawasan Telaga Air Merah. Di bawah sinar matahari yang mulai menghangat, Selamat Riyadi terlihat sigap mengarahkan teman-temannya. Ada yang membersihkan sampah di tepian telaga, ada pula yang mengatur bebek ontel dan sampan, seakan siap menyambut para pengunjung.

Dari sorot mata mereka, tergambar cinta tulus pada tanah kelahiran. Dengan tangan-tangan sederhana, para pemuda ini berhasil menyulap belukar menjadi sebuah destinasi wisata yang kini menjadi kebanggaan desa.

Telaga Air Merah sejatinya berasal dari waduk milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), peninggalan masa ketika Kepulauan Meranti masih menjadi bagian dari Kabupaten Bengkalis, Riau. Namun setelah tak lagi difungsikan, waduk itu terbengkalai. Semak belukar menutupinya, menjadikannya tempat angker dan hampir tak tersentuh manusia.

"Dulu ini belukar. Kalau mau masuk, orang takut. Jangankan berenang, melihat airnya saja tak kelihatan," kenang Selamat Riyadi, saat berbincang dengan wartawan dan pihak PT Energi Mega Persada Tbk (EMP) yang berkunjung ke Telaga Air Merah, Desa Tanjung, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Selasa (16/9/2025).

Tahun 2018 menjadi titik balik. Sekelompok pemuda nekat memulai gerakan. Berbekal parang dan arit, mereka membuka jalan setapak, membabat semak, dan perlahan menanam mimpi menjadikannya ruang publik.

Selamat masih mengingat jelas momen-momen gotong royong yang penuh pengorbanan. "Ada yang tangan luka karena terkena pisau arit, ada juga yang kena seng. Walau tanpa asuransi, tetap kami jalani. Padahal, royong hanya berbekalkan air putih dan kue gabin. Tapi begitulah semangat kawan-kawan," ujarnya.

Dukungan pun datang. Penjabat (Pj) Kepala Desa kala itu, Mazlin Jamal, bersama tokoh masyarakat memberi jalan lewat musyawarah desa. Tahun 2019, lahirlah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tanjung Mandiri yang kemudian mendapat hak pinjam pakai kawasan. Dari sinilah langkah mereka semakin terarah, karena Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) resmi bernaung di bawah BUMDes.

Telaga Air Merah resmi dibuka pada 12 Juni 2020, tepat setelah Lebaran Idul Fitri. Sayangnya, pandemi COVID-19 membatasi langkah mereka.

“Waktu itu masih nyuruk-nyuruk bukanya. Kadang buka sebulan, tutup tiga bulan. Nanti buka seminggu, tutup lagi. Jangankan untuk bagi hasil, untuk operasional saja tidak cukup," kata Selamat sambil tersenyum kecut. Meski begitu, semangat mereka tidak pernah padam.

Begitu pandemi mereda, Telaga Air Merah kembali berdenyut. Pintu wisata dibuka normal, menjadi ruang hidup baru bagi warga dan pengunjung. Dengan tiket masuk hanya Rp5.000, siapa pun bisa menikmati suasana telaga yang asri.

Beragam fasilitas disediakan dengan harga ramah di kantong. Wahana berbayar mulai Rp10.000 hingga Rp15.000, seperti bebek ontel, sampan, kolam renang anak, hingga mandi bola. Sementara gazebo, spot foto estetik, dan karaoke sederhana bisa dinikmati gratis.

Dampak ekonominya nyata. Warga sekitar bisa berjualan, menyewakan tikar, atau bekerja di telaga. Pada momen libur panjang, Idul Fitri, Idul Adha, hingga Tahun Baru, ribuan orang datang berkunjung. Bahkan, pada perayaan Tahun Baru terakhir, pengunjung menembus 2.500 orang.

BUMDes Tanjung Mandiri pun kian mekar. Pada 2023, mereka mampu menyumbang Rp21 juta untuk Pendapatan Asli Desa (PAD) dari pengelolaan Telaga Air Merah. Setahun kemudian, angka itu melonjak lebih dari dua kali lipat, menembus Rp51.924.000.

Telaga Air Merah adalah bukti bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari hal sederhana. Bukan dari dana besar, melainkan dari tekad dan konsistensi.


Peran Perusahaan Menguatkan Mimpi Pemuda

Keberhasilan Telaga Air Merah tentu tidak datang begitu saja. Perkembangan tempat wisata ini didukung oleh berbagai pihak, termasuk perusahaan yang beroperasi di desa itu, PT Imbang Tata Alam (ITA), anak perusahaan PT EMP. Sejak 2021, perusahaan yang bergerak di bidang produksi minyak dan gas ini konsisten hadir memberi dukungan, baik secara moral maupun materil.

Tak hanya memberi semangat kepada para pemuda yang berjuang memajukan desa, PT ITA juga ikut membantu sejumlah fasilitas pendukung. Mulai dari toilet, musala, tong sampah, tempat pembakaran sampah, perahu bebek, hingga seragam bagi penjaga wahana.

"Dulu kami sempat beranggapan PT ITA kurang peduli terhadap warga sekitar di wilayah operasional. Namun seiring waktu, komunikasi terjalin, dan sekarang kedekatan kami seperti keluarga. Mereka sangat mensupport apa yang kami lakukan," beber Selamat.

Keterlibatan PT ITA tidak berhenti pada bantuan fasilitas. Lebih jauh, perusahaan berperan sebagai mitra yang mempercepat langkah pemuda desa dalam mengembangkan wisata ini.

Field Sr. CSR Officer PT ITA, Arip Hidayatuloh, menjelaskan bahwa dukungan perusahaan dalam pengembangan Telaga Air Merah selalu diarahkan untuk menjadi jembatan, bukan sekadar pemberi bantuan.

"Kami selalu mensupport, tapi bukan seperti superman yang datang lalu memberi bantuan. Kami lebih memilih berperan sebagai fasilitator, sebagai katalisator," ujar Arip, didampingi Protocol Officer PT EMP Hari Maulana, GPA Officer Irena Marta Aini, dan Media Relations Officer M Hanshardi.

Arip mengibaratkan peran itu layaknya sabun yang mampu mempertemukan air dan minyak. "Kalau air dan minyak tidak akan pernah bersatu, maka sabunlah yang menyatukan keduanya. Begitu pula kami, mencoba mempercepat proses agar potensi desa dan semangat pemuda bisa berpadu menjadi kekuatan," tambahnya.

Menurutnya, modal terbesar justru lahir dari desa, khususnya pemuda yang tergabung dalam Pokdarwis dan BUMDes. Perusahaan hanya mencoba menghubungkan potensi itu dengan peluang yang ada, hingga akhirnya tercipta perubahan nyata.

Dukungan tersebut terlihat jelas dalam perjalanan Telaga Air Merah. Dari gagasan sederhana dengan modal kecil, destinasi ini kini tumbuh menjadi sumber pemasukan desa sekaligus ruang berkegiatan bagi pemuda. Bahkan, anak-anak muda yang terlibat bisa memperoleh insentif dari pengelolaan wisata.

Arip mengatakan, peran perusahaan bukan langsung memberi ikan, melainkan menyiapkan kail agar masyarakat bisa mencari penghasilan berkelanjutan. "Alhamdulillah, dengan kerja sama semua pihak, Telaga Air Merah kini bukan hanya kebanggaan desa, tapi juga sumber ekonomi baru," katanya.

Meski infrastruktur bukan bagian utama dalam program CSR migas, PT ITA tetap berupaya memberi stimulus, salah satunya membantu pengecoran jalan menuju tempat wisata. "Kalau jalannya rusak, orang enggan datang. Jadi kami coba bantu lewat swakelola bersama masyarakat," jelas Arip.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa kolaborasi ini harus terus berlanjut. Bagi perusahaan, dukungan masyarakat di sekitar wilayah operasional adalah prioritas utama, karena merekalah yang merasakan langsung dampak aktivitas migas.

"Bagi kami, telaga ini bukan sekadar objek wisata, tapi simbol semangat gotong royong. Yang terpenting bukan bendanya, melainkan manusianya. Pemuda dan masyarakat desa yang mau bergerak. Perusahaan hanya memberi dorongan kecil, agar langkah mereka bisa lebih cepat,” tutupnya.

Pernyataan serupa juga disampaikan Media Relations Officer PT EMP, M Hanshardi. Ia menyebutkan, keberhasilan Telaga Air Merah tidak terlepas dari keringat masyarakat sendiri.

"Bayangkan saja, masyarakat bergotong royong membabat dan membuka lahan itu hanya dengan modal air putih dan kue gabin. Mereka keroyokan, sehingga bekas waduk PDAM yang sudah menjadi semak belukar akhirnya disulap menjadi objek wisata,” ungkapnya.

Menurut Hanshardi, inisiatif ini mungkin saja berbeda jika program yang dibangun sepenuhnya oleh perusahaan atau pemerintah. "Kalau masyarakat sendiri yang membangun dari awal, ada peluh dan keringat yang mereka curahkan. Dari situlah lahir semangat untuk menjaga dan mempertahankan. Tugas kami hanya mendukung agar cita-cita itu bisa terwujud," tambahnya.

Hasilnya pun nyata. Meski tidak ada pengunjung, tempat wisata tetap konsisten buka. Hari biasa ketika pengunjung tidak ramai, telaga juga tetap terlihat bersih dan terawat. "Itu membuktikan bahwa mereka benar-benar memiliki rasa sayang terhadap apa yang telah mereka bangun. Kesadaran kolektif inilah yang membuat Telaga Air Merah semakin dikenal dan disukai banyak orang," jelasnya.

Kolaborasi apik antara para pemuda dan PT ITA kini berbuah manis. Upaya ini bahkan mendapat apresiasi tinggi dari Kepala Desa Tanjung, Muhammad Anas.

"Terima kasih kepada para pemuda atas kerja kerasnya, dan juga PT ITA yang terus memberikan dukungan. Semoga kerja sama ini terus berlanjut demi kemajuan Desa Tanjung," kata Anas penuh harap.

Kini, hampir tujuh tahun sejak awal perjuangan, Telaga Air Merah berdiri sebagai destinasi andalan. Di balik pemandangannya yang indah, tersimpan kisah anak-anak muda yang pantang menyerah, perusahaan yang hadir memberi dukungan, serta masyarakat yang bersama-sama menjaga warisan.

Telaga Air Merah bukan hanya soal wisata, melainkan bukti bahwa mimpi tak pernah terlalu jauh untuk digapai. Dari semak belukar, dengan modal sederhana sebilah parang, ditemani air putih dan kue gabin, lahirlah destinasi yang membanggakan. Ia menjadi simbol kebersamaan, kerja sama, dan keyakinan bahwa ketika pemuda, masyarakat, dan semua pihak berjalan seiring, tak ada mimpi yang mustahil diwujudkan. **