
JAKARTA — Di tengah hujan tanpa jeda dan arus sungai yang berubah menjadi gelombang ganas, Sumatera kembali menanggung luka. Banjir bandang dan longsor meluluhlantakkan desa-desa di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Dalam situasi genting itu, Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengerahkan kekuatan penuh: 30.864 prajurit turun ke medan bencana, berpacu dengan waktu menyelamatkan nyawa.
Wakil Kepala Pusat Penerangan TNI Brigjen Osmar Silalahi menggambarkan operasi kemanusiaan ini sebagai salah satu mobilisasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir. “Sampai saat ini, sebanyak 30.864 prajurit telah diterjunkan langsung ke titik-titik bencana,” ujarnya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Minggu (7/12/2025).
Bukan hanya personel. Dari udara hingga darat, TNI menggerakkan 70 alutsista pesawat Hercules yang menderu membawa logistik, helikopter yang menembus kabut tebal mencari korban, perahu karet yang menantang arus deras, hingga kendaraan taktis yang memaksa jalan terbuka di daerah yang terisolasi total.
Di banyak lokasi, prajurit harus berjalan kaki berjam-jam menerobos lumpur setinggi betis, menyeberangi jembatan darurat, bahkan menggendong warga lanjut usia yang tidak mampu bergerak. Suara tangis anak-anak bercampur dengan deru mesin alutsista menjadi latar keseharian tim penyelamat.
Koordinasi dilakukan tanpa henti bersama BNPB, Basarnas, Polri, pemerintah daerah, dan relawan. Fokus utama tetap sama: mencari yang hilang, mengevakuasi yang terjebak, dan memastikan bantuan mencapai mereka yang paling membutuhkan.
“Prajurit kami bekerja siang malam. Tidak ada waktu untuk istirahat ketika masih ada warga yang menunggu pertolongan,” kata Brigjen Osmar.
Di tengah cuaca yang masih tidak bersahabat, operasi penyelamatan terus diperluas. Gelombang personel dan bantuan dapat kembali ditambah jika kondisi di lapangan mengharuskan. Sumatera masih berduka, namun ribuan prajurit TNI berdiri menjadi benteng harapan bagi para penyintas.