
Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH)
JAKARTA — Tabir penyebab bencana banjir dan longsor yang melanda Pulau Sumatera mulai tersingkap. Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) mengungkap sedikitnya 31 perusahaan diduga kuat menjadi pemicu kerusakan lingkungan yang berujung pada bencana. Sumatera Barat tercatat sebagai wilayah dengan jumlah temuan terbanyak.
Hasil pemetaan awal Satgas PKH menunjukkan aktivitas usaha di kawasan hutan dan daerah aliran sungai (DAS) telah meninggalkan jejak kerusakan serius. Pembukaan hutan, eksploitasi lahan, hingga aktivitas pertambangan yang mengabaikan daya dukung lingkungan disebut memperparah dampak hujan ekstrem yang berubah menjadi bencana mematikan.
Ketua Pelaksana Satgas PKH, Febrie Adriansyah, menegaskan negara tidak lagi bekerja dalam gelap. Identitas dan lokasi perusahaan yang diduga bertanggung jawab telah dikantongi.
“Kita sudah memetakan perusahaan-perusahaan mana saja penyebab bencana ini. Sudah diketahui identitas, sudah diketahui lokasi, sudah diketahui kira-kira perbuatan pidana seperti apa yang terjadi,” ujar Febrie dikutip dari Detik News.
Pernyataan itu menjadi sinyal keras bahwa proses hukum tidak berhenti pada individu semata. Korporasi, kata Febrie, akan dimintai pertanggungjawaban penuh.
“Tidak saja perorangan, korporasi pun akan dikenai pertanggungjawaban pidana dan juga sanksi administratif berupa evaluasi perizinan,” tegasnya.
Selain Sumatera Barat, temuan serupa juga mencuat di Aceh dan Sumatera Utara. Satgas PKH kini bergerak bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Bareskrim Polri, serta Kejaksaan Agung untuk menelusuri pelanggaran dan menyiapkan langkah penegakan hukum.
Pemerintah menegaskan, praktik usaha yang mengorbankan hutan dan keselamatan rakyat tidak akan lagi ditoleransi. Penertiban kawasan hutan dan pemulihan ekosistem DAS disebut sebagai kunci untuk menghentikan siklus bencana yang terus berulang.
Dalam beberapa bulan terakhir, banjir dan longsor di Sumatera telah merenggut korban jiwa, menghancurkan rumah warga, serta melumpuhkan aktivitas ekonomi. Di balik reruntuhan itu, kini satu per satu aktor perusak lingkungan mulai disorot.