Ferdiansyah, Mengalir Tenang, Tetap Relevan dalam Dinamika Politik Dumai

Rabu, 07 Januari 2026

Presiden Dales United dan Dales Academy, Ferdiansyah, SE

DUMAI — Kendati belum memperoleh kemenangan pada Pilkada Dumai 2024, langkah politik Ferdiansyah tetap menjadi catatan penting di panggung lokal. Keputusan Ketua DPD Partai Golkar Kota Dumai itu untuk meninggalkan kursi DPRD yang nyaris pasti diraihnya, demi bertarung sebagai calon wali kota, dinilai sebagai bentuk sikap ksatria sekaligus keberanian mengambil risiko.

Sebagai putra daerah, Ferdiansyah hadir bukan sekadar melalui platform politik. Ia dikenal sebagai figur yang bekerja dalam diam—membantu tanpa perlu sorotan kamera, mengulurkan tangan tanpa perlu tepuk tangan.

Pengamat isyu politik dan sosial Dumai, Andi Irwandi, menilai bahwa kekalahan elektoral tidak serta-merta menghapus posisi seseorang dalam peta politik daerah. “Dalam politik lokal, konsistensi dan keberlanjutan peran justru sering menjadi penentu masa depan. Ferdiansyah menunjukkan itu,” ujarnya.

Sebagai putra daerah kelahiran Dumai, Ferdiansyah dinilai memahami karakter sosial masyarakat serta isu-isu strategis kota industri tersebut. Kedekatan geografis dan emosional dengan warga menjadi faktor yang membuat namanya tetap diperbincangkan pasca-Pilkada.

Di internal Partai Golkar Kota Dumai, Ferdiansyah juga masih memegang peran sentral. Konsolidasi organisasi partai pasca kontestasi berjalan relatif stabil. Pada Pemilu legislatif terakhir, Golkar Dumai mencatat peningkatan perolehan kursi, sebuah capaian yang kerap dikaitkan dengan kepemimpinan struktural yang solid.

Di luar arena politik formal, Ferdiansyah juga tetap aktif dalam kegiatan sosial dan kepemudaan, salah satunya melalui pembinaan sepak bola usia dini lewat "Dales United" klub yang menjadi ruang pengembangan bakat dan karakter anak-anak Dumai. Aktivitas ini dinilai sebagai investasi sosial jangka panjang yang tidak bergantung pada jabatan politik.

Pasca Pilkada, Ferdiansyah memilih tetap berada di ruang publik tanpa manuver berlebihan. Sikap tersebut dinilai mencerminkan pendekatan politik yang lebih berorientasi proses, bukan semata hasil.

Dengan usia yang masih muda dan pengalaman politik yang terus terakumulasi, sejumlah kalangan menilai Ferdiansyah masih memiliki peluang dalam regenerasi kepemimpinan Dumai ke depan. Kekalahan dalam Pilkada dianggap sebagai fase yang memperkaya pengalaman, bukan menutup jalan politiknya.

Dalam konteks pembangunan demokrasi lokal, figur yang mampu menjaga konsistensi, menerima dinamika politik secara dewasa dan tetap hadir di tengah masyarakat, dinilai tetap relevan. Ferdiansyah menjadi salah satu nama yang masih masuk dalam kategori tersebut.