
Pertemuan Presiden Prabowo dengan Raja Charles III.
LONDON — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menghadiri Pertemuan Filantropi Konservasi Gajah Peusangan yang digelar di Lancaster House, London, Rabu (21/1/2026), dalam rangkaian lawatan kenegaraan ke Inggris. Forum ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat kerja sama internasional di bidang pelestarian satwa liar dan konservasi lingkungan.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo juga melakukan pertemuan dengan Yang Mulia Raja Charles III. Kedua pemimpin membahas upaya perlindungan gajah beserta habitat alaminya, termasuk penguatan program rehabilitasi hutan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal.
Pertemuan ini mencerminkan komitmen bersama Indonesia dan Inggris dalam mendorong agenda pembangunan berkelanjutan, memperkuat diplomasi lingkungan, serta meningkatkan kolaborasi lintas negara dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan pelestarian keanekaragaman hayati global.
Selain agenda lingkungan, kunjungan Presiden Prabowo ke Inggris juga membuahkan capaian konkret di sektor ekonomi, maritim, dan pendidikan. Pemerintah Indonesia berhasil mengamankan komitmen investasi sebesar 4 miliar poundsterling atau sekitar Rp 90 triliun.
Kerja sama strategis di bidang maritim turut disepakati, termasuk rencana pembangunan 1.582 kapal nelayan yang akan diproduksi dan dirakit di Indonesia. Program ini diproyeksikan mampu menyerap sekitar 600 ribu tenaga kerja, sekaligus memperkuat industri galangan kapal nasional.
Di bidang pendidikan tinggi, Presiden Prabowo menggelar pertemuan dengan 24 profesor dari universitas terkemuka Inggris Raya. Fokus kerja sama diarahkan pada pengembangan pendidikan kedokteran dan bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Rencana strategis tersebut mencakup pembangunan 10 kampus baru di Indonesia melalui skema pendirian kampus universitas Inggris, program pertukaran dosen, serta kolaborasi dengan Russell Group guna meningkatkan daya saing dan peringkat universitas Indonesia di tingkat global.
Kunjungan ini menegaskan pendekatan diplomasi aktif Indonesia yang mengintegrasikan kepentingan lingkungan, ekonomi, dan pembangunan sumber daya manusia secara berkelanjutan.