Di Balik Seragam Putih RSUD Dumai: Jasa Dipangkas, Beban Hidup Meningkat

Rabu, 28 Januari 2026

Foto : Ilustrasi

DUMAI -- Di balik kesibukan ruang perawatan, deru troli obat, dan wajah-wajah lelah yang tetap tersenyum kepada pasien, ratusan tenaga medis RSUD Suhatman Mars Dumai tengah memikul beban yang tak terlihat: pendapatan mereka dipangkas, sementara tuntutan kerja tak pernah berkurang.

Harapan untuk memperjuangkan nasib itu sempat dibawa ke ruang rapat DPRD Dumai. Namun hasilnya kembali menggantung. Tuntutan agar peraturan wali kota yang memangkas jasa medis dari 44 persen menjadi 40 persen direvisi, belum menemukan titik terang.

Yang didapat para tenaga kesehatan hanyalah janji pembahasan ulang.

“Pimpinan dan Komisi III berjanji akan membahas ulang dengan Wali Kota berkaitan tuntutan tenaga medis,” ujar salah seorang dokter usai rapat dengar pendapat.

Bagi mereka, kalimat itu terdengar familiar terlalu familiar. Upaya serupa pernah dilakukan sebelumnya, dengan hasil yang sama: kebijakan tetap berjalan, pemotongan tetap berlaku.

“Kemungkinan kecil akan berubah. Upaya seperti ini sudah pernah kami lakukan, dan hasilnya tetap sama. Kami yakin pembahasan akan gagal,” katanya pelan.

Potongan empat persen mungkin terdengar kecil di atas kertas. Namun bagi tenaga medis yang menggantungkan kebutuhan keluarga dari jasa pelayanan, selisih itu berarti cicilan rumah, biaya sekolah anak, hingga kebutuhan dapur yang makin terasa berat di tengah kenaikan harga.

Ironisnya, pemotongan terjadi saat beban kerja justru tidak ringan. Tenaga medis tetap berada di garis depan pelayanan kesehatan, menghadapi risiko infeksi, tekanan mental, serta jam kerja panjang yang kerap melampaui batas normal.

Gelombang protes sebenarnya sudah muncul sejak aturan itu diberlakukan beberapa bulan lalu. Ratusan tenaga medis sempat menyuarakan keberatan keras terhadap manajemen rumah sakit dan pemerintah daerah. Namun hingga kini, perubahan yang diharapkan belum juga datang.

Meski begitu, ada satu hal yang mereka pastikan tidak akan dikorbankan: pasien.

“Pelayanan rumah sakit akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Kami jamin tidak akan ada upaya menghentikan pelayanan. Tidak seperti dulu, ada aksi demo menghentikan pelayanan,” tegasnya.

Pernyataan itu menjadi gambaran dilema para tenaga kesehatan: memperjuangkan hak di satu sisi, namun tetap memikul sumpah profesi di sisi lain. Mereka memilih tetap bekerja, bahkan ketika merasa kesejahteraan mereka perlahan tergerus.

Kini para tenaga medis hanya bisa menunggu langkah nyata dari pemerintah daerah. Sementara itu, mereka kembali mengenakan seragam putih, masuk ke ruang perawatan, dan merawat pasien seperti biasa dengan profesionalisme yang tetap utuh, meski kesejahteraan mereka terasa kian rapuh. (*)