Prabowo Bongkar Efisiensi Rp300 Triliun: Uang Rakyat Harus Kembali ke Rakyat

Sabtu, 14 Februari 2026

Presiden Prabowo: Panggung Indonesia Economic Outlook 2026 di Auditorium Wisma Danantara

JAKARTA — Di hadapan pelaku ekonomi nasional, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato yang menandai arah baru pemerintahan Indonesia. Dari panggung Indonesia Economic Outlook 2026 di Auditorium Wisma Danantara Indonesia, Jumat (13/2/2026), Presiden berbicara lugas, keras, dan tanpa basa-basi: negara tidak boleh lagi bocor, apalagi dikhianati dari dalam.

Pada tahun pertama kepemimpinannya, Presiden mengungkapkan fakta mengejutkan pemerintah berhasil melakukan efisiensi anggaran lebih dari Rp300 triliun. Angka raksasa itu, menurut Presiden, bukan sekadar statistik, melainkan bukti bahwa selama ini negara menyimpan ruang pemborosan yang rawan disalahgunakan.

“Kalau tidak kita rapikan, uang itu bisa hilang, bisa dikorupsi,” ujar Presiden tegas, disambut perhatian penuh para hadirin.

Dana hasil efisiensi tersebut kini dialihkan langsung untuk program-program produktif yang menyentuh rakyat kecil, salah satunya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebuah intervensi negara demi masa depan generasi bangsa.

Lebih jauh, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kebangkitan ekonomi Indonesia tidak boleh bergantung pada belas kasih kekuatan luar. Indonesia, katanya, harus berdiri tegak di atas kaki sendiri berdaulat secara ekonomi, kuat secara produksi, dan berani menentukan arah masa depan.

Pidato Presiden mencapai puncak emosinya saat menyinggung nasib nelayan kelompok yang selama puluhan tahun berada di pinggiran pembangunan.

“Sejak Republik ini berdiri, nelayan kita belum benar-benar disentuh. Mereka tidak punya es, sulit solar, susah akses pasar. Negara terlalu lama absen. Ini kita akhiri,” ucap Presiden dengan nada getir.

Sebagai jawaban atas ketertinggalan itu, pemerintah menargetkan pembangunan 1.000 desa nelayan terintegrasi pada 2026, bagian dari visi besar 5.000 desa nelayan hingga 2029. Desa-desa ini akan dibangun bukan sekadar sebagai pemukiman, tetapi sebagai pusat produksi, logistik, dan distribusi ekonomi kelautan.

Tak berhenti di sana, Presiden juga mengumumkan percepatan pembentukan Koperasi Merah Putih sebuah arsitektur baru ekonomi desa. Hampir 30.000 koperasi dan gudang kini memasuki tahap pembentukan. Koperasi ini akan dilengkapi cold storage, gudang pangan, klinik desa, farmasi murah, hingga pembiayaan mikro berbunga ringan.

Tujuannya satu: memutus rantai ketergantungan rakyat terhadap rentenir dan menghadirkan negara secara nyata di desa-desa.

Pidato Presiden Prabowo hari itu bukan sekadar laporan kinerja, melainkan pernyataan sikap. Sebuah pesan bahwa negara tengah dibenahi dari dalam, uang rakyat dikembalikan ke rakyat, dan Indonesia sedang dipaksa oleh kepemimpinannya sendiri untuk bangkit dengan kaki sendiri. (*)