Jembatan Rusak di Dumai Tuai Sorotan, Warga: Jangan Tunggu Korban

Sabtu, 28 Maret 2026

Foto : Kondisi jembatan Sungai Mesjid Kota Dumai

DUMAI – Jeritan warga soal infrastruktur kembali menggema. Kali ini bukan sekadar keluhan biasa, melainkan peringatan keras atas ancaman nyata di depan mata: sebuah jembatan penghubung vital antara Dumai Barat dan Sungai Sembilan yang kini rusak parah dan mengintai keselamatan setiap pengendara yang melintas.

Sorotan ini mencuat setelah unggahan viral dari warga, Guntur Hardiansyah, di media sosial. Dalam tulisannya, ia menggambarkan kondisi jembatan yang berlubang dan rapuh, seolah menunggu waktu untuk benar-benar ambruk. 

“Kepada pemerintah Kota Dumai yang terhormat, tolong lah kalian perhatikan jembatan penghubung Dumai Barat ke Sungai Sembilan ini,” tulisnya penuh kegelisahan.

Tak hanya itu, Guntur juga menyentil keras puluhan perusahaan di kawasan Lubuk Gaung yang dinilai abai terhadap tanggung jawab sosial mereka. 

“Puluhan perusahaan di daerah Lubuk Gaung itu, tapi bisa-bisanya dana CSR selalu dialihkan. Luar biasa kerja nyata kalian,” sindirnya tajam.

Unggahan tersebut langsung menyulut emosi publik. Kolom komentar dipenuhi nada kecewa, bahkan kemarahan. Seorang warganet, Handoyo Widodo, melontarkan kritik pedas yang menggambarkan frustrasi masyarakat. 

“Para pejabatnya lagi pada bobok nyenyak. Nggak nampak itu jembatan mau roboh. Nunggu tumbal dulu mungkin,” tulisnya.

Senada, akun Bunda Charill mengingatkan dengan nada getir:

 “Jangan sampai ada kejadian baru lah nak diperbaiki.”

Ironisnya, di tengah kondisi jembatan yang kian kritis, masyarakat justru menyoroti kebijakan penggunaan APBD yang dinilai tidak berpihak pada kebutuhan mendesak. Alih-alih fokus pada infrastruktur yang membahayakan warga, anggaran justru digunakan untuk perbaikan jalan nasional.

Situasi ini memantik pertanyaan besar: ke mana arah prioritas pembangunan di kota ini?

Meski secara kewenangan jembatan tersebut berada di bawah Pemerintah Provinsi Riau, warga menilai Pemerintah Kota Dumai tidak bisa lepas tangan. Dalam kondisi darurat seperti ini, langkah cepat dan konkret dinilai lebih penting daripada sekadar menunggu prosedur.

Seorang anggota dewan pun angkat bicara, dengan pernyataan yang menohok dan sarat makna: 

“Yang sunah diwajibkan, yang wajib disunahkan. Ini yang jadi persoalan kita hari ini. Infrastruktur yang jelas prioritas justru tidak didahulukan, seperti kerusakan jalan Patimura dan jalan dalam kota Dumai lainnya.”

Ucapan tersebut mencerminkan kegelisahan yang sama: ketika yang seharusnya menjadi prioritas justru diabaikan, sementara yang bukan mendesak malah didahulukan.

Kini, masyarakat hanya bisa berharap sebelum kerusakan jalan dijembatan itu semakin parah, sebelum ada korban akibat kelalaian dan ketidak pedulian ini.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai rencana perbaikan. Namun satu hal yang pasti, waktu terus berjalan… dan risiko semakin nyata. (*)