
Foto : Dhery Perdana Nugraha (22 April 2026)
JAKARTA — Dunia sedang bergolak. Perang, tekanan geopolitik, dan ketidakpastian ekonomi global menjadi badai yang mengancam banyak negara. Namun di tengah pusaran itu, Indonesia justru berdiri di persimpangan penting bertahan sebagai magnet investasi, atau tergelincir oleh beban regulasi sendiri.
Presiden Prabowo Subianto tak tinggal diam. Dari jantung kekuasaan di Istana Kepresidenan, beliau mengirim pesan keras, iklim investasi Indonesia harus dijaga, diperkuat dan dibebaskan dari belenggu aturan yang menghambat.
Pesan itu disampaikan oleh Rosan Roeslani, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, yang menegaskan bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia masih menyala terang di tengah gelapnya ketidakpastian global.
“Minat mereka masih sangat tinggi. Bahkan dalam situasi dunia yang tidak menentu, investasi ke Indonesia tetap mengalir sesuai rencana ini bukan kebetulan, ini kepercayaan,” ujar Rosan.
Namun optimisme itu datang dengan peringatan tajam. Presiden Prabowo, kata Rosan, menyoroti ancaman yang justru datang dari dalam negeri sendiri, regulasi yang berbelit, izin yang berlapis dan kebijakan yang tak lagi relevan dengan kebutuhan zaman.
“Jangan sampai kita sendiri yang menghambat. Jika aturan itu menghalangi, maka tidak perlu dipertahankan,” tegas Rosan, mengutip arahan Presiden.
Ini bukan sekadar wacana reformasi. Ini adalah sinyal peringatan.
Pemerintah kini didorong untuk melakukan pembenahan besar-besaran, membandingkan diri dengan standar global mulai dari negara-negara ASEAN hingga praktik terbaik dunia yang dirumuskan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development.
Tujuannya jelas, Indonesia tidak boleh kalah dalam perlombaan menarik investasi global.
Koordinator Aliansi Pemuda Riau Jakarta (APRJ) Dhery Perdana Nugraha, menilai langkah ini sebagai pertaruhan besar arah masa depan ekonomi nasional.
“Iklim investasi bukan hanya soal angka. Ini soal kepercayaan, kepastian dan keberanian negara melakukan perubahan. Jika ini berhasil, Indonesia akan melompat. Jika tidak, kita akan tertinggal,” ujar Dhery.
Di tengah kompetisi global yang semakin brutal, waktu tidak berpihak pada mereka yang lambat berbenah.
Indonesia kini dihadapkan pada pilihan yang tak bisa ditunda merobohkan hambatan dari dalam, atau menyaksikan peluang besar perlahan menghilang.