Ternyata Salahsatu Terasi Terbaik di Meranti Diproduksi di Ketapang Permai

Kamis, 09 Juli 2026

AROMA khas terasi langsung tercium begitu memasuki Desa Ketapang Permai, Kecamatan Pulau Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti. Di desa yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan itu, belacan atau terasi bukan sekadar bumbu dapur.

Produk olahan berbahan baku udang pepai tersebut telah menjadi sumber penghidupan masyarakat selama puluhan tahun dan kini berkembang menjadi salah satu produk unggulan daerah.

Di balik kesederhanaan proses pembuatannya, terasi Ketapang Permai menyimpan cita rasa yang khas. Bahan bakunya berasal dari udang pepai segar yang ditangkap nelayan di perairan sekitar Pulau Merbau.

Kesegaran bahan baku menjadi salah satu alasan mengapa kualitas terasi dari daerah ini dikenal memiliki aroma kuat, rasa gurih alami dan disukai konsumen.

Setiap musim panen udang, para pelaku UMKM mampu memproduksi sekitar 5.000 keping terasi dalam waktu kurang dari satu bulan. Produk tersebut dipasarkan dengan harga sekitar Rp2.000 per keping dan telah menjangkau berbagai daerah, mulai dari Selatpanjang hingga Pekanbaru.

Kepala Desa Ketapang Permai, Safrizal, menyebutkan, usaha pengolahan terasi telah menjadi mata pencaharian tambahan bagi banyak keluarga di desanya. Selain memberikan nilai tambah terhadap hasil tangkapan nelayan, usaha tersebut juga membantu meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir.

"Produk ini menjadi tambahan pendapatan bagi banyak keluarga di Desa Ketapang Permai," cetusnya saat berbincang ringan beberapa waktu lalu.

Kata Safrizal, proses pembuatan terasi masih mempertahankan cara tradisional. Udang pepai yang baru ditangkap terlebih dahulu dipilih berdasarkan kualitasnya. Setelah dibersihkan, udang dicampur garam dengan takaran tertentu sebelum melalui proses fermentasi. Tahapan ini menjadi kunci terbentuknya aroma dan cita rasa khas belacan.

Setelah proses fermentasi selesai, adonan digiling hingga halus, kemudian dicetak menjadi kepingan-kepingan dan dijemur menggunakan sinar matahari. Penjemuran dilakukan hingga kadar air berkurang sehingga terasi lebih awet tanpa menggunakan bahan pengawet.

Kualitas terasi dijaga sejak tahap awal. Udang pepai yang baru ditangkap langsung diolah, area produksi rutin dibersihkan dan proses pengeringan dilakukan di tempat terbuka agar terasi mengering secara alami. Upaya tersebut penting untuk menjaga mutu, aroma dan keamanan pangan.

Namun, keterbatasan peralatan masih menjadi tantangan. Saat cuaca kurang mendukung, proses pengeringan membutuhkan waktu lebih lama sehingga produksi ikut melambat.

Safrizal berharap pemerintah dapat membantu penyediaan mesin penggiling dan alat pengering agar kapasitas produksi meningkat sekaligus menjaga kualitas produk tetap konsisten.

"Kendala kami bukan bahan baku, melainkan peralatan. Bantuan mesin penggiling dan alat pengering akan sangat membantu mempercepat proses produksi sekaligus menjaga kualitas terasi," ujarnya.

Selain terasi, masyarakat Desa Ketapang Permai juga memproduksi bilis kering dan udang kering. Melimpahnya hasil tangkapan laut membuat masyarakat mampu mengembangkan berbagai produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding menjual hasil tangkapan dalam kondisi segar.

Sementara itu, Camat Pulau Merbau, Hermansyah memaparkan pemerintah kecamatan terus mendorong pengembangan UMKM berbasis hasil perikanan. Menurutnya, potensi tersebut perlu didukung melalui bantuan sarana produksi, pendampingan usaha, hingga perluasan akses pemasaran.

"Potensi ini harus dikembangkan secara serius. Karena itu, kami akan menggandeng instansi terkait untuk memperkuat kapasitas UMKM, mulai dari produksi hingga pemasaran, sehingga terasi Teluk Ketapang benar-benar menjadi produk unggulan yang memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat," ujarnya.

Pria asli Pulau Merbau ini juga mengakui, potensi terasi Ketapang Permai juga mulai mendapat perhatian lebih luas. Produk dengan merek Terasi Tuah Udang pernah dipromosikan pada bazar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Provinsi Riau di Kabupaten Kuantan Singingi.

Seluruh produk yang dipamerkan habis terjual, menunjukkan bahwa belacan khas Pulau Merbau mampu bersaing dengan produk dari daerah lain.

Salah seorang perajin, Suryati (45) menceritakan, ia telah menggeluti usaha tersebut selama sekitar tiga dekade. Menurutnya, permintaan pasar (pusat kota Selatpanjang) sangat terbatas dan pasar terasi lokal belum mampu menembus pasar luar daerah, ditambah lagi proses produksi masih dilakukan secara manual.

"Udangnya tidak pernah kurang, tetapi tenaga dan peralatan masih terbatas. Karena semuanya dikerjakan secara manual," ujarnya.

Selain Suryati, usaha serupa juga dijalankan Ismawati, Rusman, Zuraida, dan Rosma Santi. Mereka berharap dukungan pemerintah tidak hanya berupa bantuan peralatan, tetapi juga pendampingan dalam pengemasan produk, pemasaran digital, serta pemenuhan legalitas usaha.

Terpisah, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi UKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Kepulauan Meranti, Eko Priyono memaparkan, pemerintah daerah tetap berkomitmen membantu UMKM agar mampu naik kelas.

Maksud dari naik kelas itu, jelas dia, pelaku UMKM harus melaporkan dan mengurus legalitas seperti sertifikat halal, PIRT dan izin edar. Karena, itu menjadi syarat penting agar produk dapat dipasarkan secara luas.

"Pemerintah daerah pada prinsipnya akan mendukung dan mendorong seluruh pelaku usaha agar maju dan mendapatkan pengakuan atas legalitas produk," jelasnya.

Karena, beber Eko, dengan kualitas bahan baku yang baik dan cita rasa yang khas. Pelaku usaha terasi tersebut akan didorong untuk meningkatkan teknologi produksi dan legalitas usaha.

"Kalau kualitas produk dan pengemasannya terus ditingkatkan, saya optimistis terasi Ketapang Permai bisa menjadi salah satu produk unggulan Kabupaten Kepulauan Meranti," ujarnya.

Bahkan, lanjut dia, kedepan terasi Ketapang Permai bukan hanya sebagai pelengkap masakan, tetapi juga sebagai identitas kuliner pesisir yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat dan memperkenalkan kekayaan hasil laut Meranti ke pasar yang lebih luas.

Senada dengan itu, Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, Lianita Muharni juga menilai, usaha pengolahan terasi yang dijalankan masyarakat Desa Ketapang Permai merupakan contoh nyata bagaimana potensi sumber daya laut dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

Menurutnya, terasi Ketapang Permai tidak hanya memiliki cita rasa yang khas, tetapi juga berpotensi menjadi salah satu produk unggulan Kepulauan Meranti apabila mendapat pembinaan yang berkelanjutan.

"Potensi ini harus terus didorong agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tempatan," ujar Lianita.

Demi keberlanjutan, Politisi Nasdem ini meminta dukungan pemerintah tidak hanya pada bantuan peralatan produksi, tetapi juga harus mencakup pendampingan usaha, peningkatan kualitas kemasan, pemasaran, hingga pemenuhan legalitas seperti sertifikat halal, PIRT dan izin edar.

Dengan dukungan tersebut, menurut Lianita, produk terasi dari Ketapang Permai akan memiliki daya saing lebih tinggi dan mampu menembus pasar yang lebih luas.

"Demi kemajuan UMKM, kami siap mendukung kebijakan maupun program yang bertujuan mengembangkan UMKM berbasis potensi lokal," cetusnya.

Fraksi Nasdem ini juga berharap, terasi Ketapang Permai tidak hanya dikenal di Meranti dan Riau, tetapi juga dapat menjadi produk kebanggaan yang mampu bersaing di tingkat nasional. (ADV)