Dari Iseng Jadi Cuan, GARISA Keripik Tempe Sagu Mantiasa Tembus Pasar hingga Malaysia

Kamis, 23 Juli 2026

BERAWAL dari keisengan mempersiapkan sajian untuk Hari Raya Idul Fitri, siapa sangka sebuah ide sederhana dari dapur rumah tangga justru berkembang menjadi usaha yang terus bertahan dan tumbuh hingga kini.

Adalah Laili Hanifah, warga Desa Mantiasa, Kecamatan Tebing Tinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, yang berhasil mengembangkan produk pangan lokal bernama GARISA, singkatan dari keripik tempe sagu.

Usaha yang mulai dirintis pada awal Ramadan 2023 itu menjadi bukti bahwa kreativitas dan keberanian mencoba dapat membuka jalan baru bagi pelaku usaha mikro untuk berkembang.

Kisah GARISA bermula ketika Laili mencoba membuat keripik tempe sagu untuk persiapan Lebaran. Produk tersebut kemudian diunggah oleh sang suami melalui status WhatsApp.

Tak disangka, unggahan sederhana itu menarik perhatian. Seorang teman suaminya meminta tester untuk mencoba produk tersebut.

Setelah mencicipinya, respons yang datang justru di luar dugaan. Produk yang awalnya hanya dibuat untuk konsumsi keluarga dan persiapan Idul Fitri itu langsung mendapat pesanan.

"Awalnya hanya iseng membuat untuk persiapan Idul Fitri. Kemudian suami posting di story WhatsApp. Ada teman suami yang minta tester, kami kasih. Ternyata setelah mencoba, mereka langsung pesan untuk Idul Fitri," ujar Laili.

Dari situlah Laili mulai membuka sistem pemesanan atau open order. Pesanan perdana yang diterima bahkan mencapai sekitar 25 kilogram untuk kebutuhan Idul Fitri.

Seiring waktu, GARISA terus berjalan dan perlahan mulai dikenal lebih luas. Dengan modal awal sekitar Rp2 juta, Laili membangun usahanya secara bertahap, menyesuaikan kapasitas produksi dengan permintaan pasar.

Saat ini, produksi GARISA dilakukan sekitar empat hingga lima kali dalam sebulan. Dalam satu kali produksi, rata-rata mampu menghasilkan sekitar 8 hingga 10 kilogram keripik tempe sagu.

Perkembangan usaha pun mulai terlihat dari peningkatan kapasitas produksi. Pada 2026, Laili bersyukur produksi tertinggi GARISA berhasil mencapai 62 kilogram, dengan harga jual saat ini sekitar Rp85 ribu per kilogram.

Dari usaha tersebut, omzet GARISA kini mencapai sekitar Rp3,4 juta per bulan.

Menariknya, pasar GARISA tidak hanya berasal dari konsumen lokal. Produk keripik tempe sagu tersebut juga kerap dipesan sebagai buah tangan untuk dibawa ke berbagai daerah, mulai dari Jawa, Pekanbaru, Dumai, Kepulauan Riau (Kepri), bahkan hingga Malaysia.

Bagi Laili, permintaan dari luar daerah menjadi penyemangat tersendiri untuk terus menjaga kualitas sekaligus mengembangkan produk berbasis potensi lokal.

Kisah GARISA juga menunjukkan bagaimana produk UMKM yang lahir dari kreativitas rumah tangga dapat memiliki peluang pasar yang luas apabila dikelola secara konsisten.

Di tengah potensi sagu yang menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat Kepulauan Meranti, inovasi seperti keripik tempe sagu menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana komoditas lokal dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.

Dukungan terhadap perjalanan GARISA juga datang dari Rumah BUMN Kepulauan Meranti. Fasilitator Rumah BUMN Kepulauan Meranti, Putri Maysora, mengatakan pihaknya bersama PLN telah memberikan dukungan kepada pemilik GARISA pada 2024.

Bantuan tersebut di antaranya berupa 1.000 kemasan (packaging), mesin pemotong kerupuk, spinner atau alat penyaring minyak, bahan baku, serta pendampingan dalam pengurusan legalitas usaha.

Menurut Putri, dukungan tersebut diharapkan dapat membantu pelaku UMKM meningkatkan kualitas produksi sekaligus memperluas peluang pengembangan usaha.

Ia juga mendorong pemilik GARISA untuk terus menjaga semangat dan produktivitas dalam mengembangkan usahanya.

"Harapannya, tetap semangat dan produktif," kata Putri.

Sementara itu, dukungan terhadap pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif di Kabupaten Kepulauan Meranti juga terus menjadi perhatian pemerintah daerah.

Plt Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Kepulauan Meranti, Eko Priyono, menyampaikan bahwa penguatan sektor UMKM menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Keberadaan pelaku usaha seperti GARISA dinilai menjadi contoh bahwa UMKM lokal memiliki potensi besar untuk berkembang, terutama ketika mampu memanfaatkan bahan baku dan kearifan lokal menjadi produk kreatif yang memiliki nilai jual.

Kisah Laili Hanifah bersama GARISA menjadi gambaran bahwa sebuah usaha tidak selalu harus dimulai dengan modal besar. Dari dapur sederhana, modal sekitar Rp2 juta, dan berawal dari sebuah unggahan di status WhatsApp, produk keripik tempe sagu Mantiasa kini telah menjangkau konsumen lintas daerah hingga mancanegara.

GARISA membuktikan, ketika kreativitas bertemu dengan ketekunan dan dukungan yang tepat, produk UMKM dari desa pun mampu melangkah jauh—membawa cita rasa lokal Kepulauan Meranti hingga ke berbagai penjuru, bahkan menyeberangi batas negara. (ADV)