Nasional

Julizar: Ujian Besar Energi Nasional di Tengah Gejolak Dunia

Foto : Assoc. Prof. Dr. Julizar Idris Dosen dan Peneliti Kebijakan Publik & Pengamat Energi Nasional

JAKARTA -- Dunia sedang berada di ambang ketidakpastian. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan lagi sekadar dinamika geopolitik biasa. Ketegangan yang memanas telah merembet ke urat nadi ekonomi global: energi. Terganggunya jalur strategis di Selat Hormuz membuat dunia menahan napas. Harga minyak melonjak liar, rantai pasok tersendat, dan banyak negara mulai goyah menghadapi tekanan yang kian nyata.

Di tengah badai itu, Indonesia berdiri tidak tanpa guncangan, tetapi juga tidak runtuh.

Sebagai negara yang masih bergantung pada sebagian impor energi, Indonesia sejatinya berada dalam posisi rentan. Setiap riak global pasti merambat hingga ke dalam negeri. Namun yang terjadi hari ini justru menghadirkan paradoks yang menarik: di tengah gejolak dunia, stabilitas domestik tetap terjaga. Listrik tetap menyala tanpa gangguan besar, distribusi energi terus berjalan, dan kepanikan publik tidak meledak.

Ini bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari proses panjang yang sering kali luput dari sorotan.

Selama bertahun-tahun, fondasi ketahanan energi Indonesia perlahan dibangun melalui diversifikasi sumber energi, optimalisasi potensi domestik seperti batubara dan biofuel, serta pembenahan tata kelola yang semakin adaptif. Apa yang dulu sebatas wacana, kini mulai menjelma menjadi kapasitas nyata yang teruji oleh krisis global.

Dalam konteks kepemimpinan nasional, arah kebijakan yang ditempuh oleh Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kombinasi antara ketegasan dan kehati-hatian. Fokus pada kedaulatan energi berjalan beriringan dengan respons yang terukur terhadap dinamika global yang tidak menentu. Ini menjadi sinyal bahwa stabilitas bukan hanya dijaga, tetapi juga direncanakan.

Namun, ketahanan bukan berarti tanpa celah.

Krisis ini justru membuka satu kenyataan yang tidak bisa diabaikan: ketergantungan pada energi impor masih menjadi titik rawan. Jika tekanan global berlarut atau bahkan meningkat, maka daya tahan kita akan kembali diuji mungkin dengan skala yang lebih besar.

Di sinilah momentum itu hadir.

Kita tidak bisa sekadar bertahan. Kita harus melompat lebih jauh mempercepat transformasi menuju sistem energi yang mandiri, berkelanjutan, dan tangguh terhadap guncangan global. Krisis ini bukan hanya ancaman, tetapi juga peluang untuk mempercepat langkah yang selama ini berjalan perlahan.

Pada akhirnya, ketahanan energi bukan sekadar soal ketersediaan pasokan. Ia adalah soal keberanian dalam mengambil keputusan, konsistensi dalam menjalankan kebijakan, serta ketajaman dalam membaca arah masa depan di tengah ketidakpastian yang semakin kompleks.

Di saat yang sama, stabilitas ini juga tidak bisa dilepaskan dari kemampuan menjaga keseimbangan politik di tingkat nasional. Peran Pimpinan DPR patut diapresiasi  terutama dalam menjembatani dan menyelaraskan ritme kebijakan antara eksekutif dan legislatif. Sinkronisasi ini menjadi faktor penting dalam menciptakan situasi politik yang lebih kondusif, sehingga kebijakan strategis-termasuk di sektor energi-dapat berjalan dengan lebih efektif tanpa friksi yang berlebihan.

Indonesia hari ini memang belum sepenuhnya kebal. Namun satu hal menjadi jelas: di tengah dunia yang berguncang, kita tidak lagi sekadar bertahan, kita mulai berdiri dengan pijakan yang lebih kokoh.

Oleh: Assoc. Prof. Dr. Julizar Idris. (Dosen dan Peneliti Kebijakan Publik & Pengamat Energi Nasional)



[Ikuti RiauTime.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 082387131915
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan RiauTime.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan