Presiden Puji, Sekaligus Ingatkan: Amanah Jabatan Harus Berbuah Hasil Nyata
JAKARTA — Momen ketika Presiden Prabowo Subianto mengabsen satu per satu jabatan strategis yang diemban para tokoh penggerak sektor pertanian nasional menyita perhatian publik. Suasana yang semula cair dan penuh canda, perlahan berubah menjadi refleksi serius tentang makna amanah kekuasaan dan tuntutan kerja nyata.
Pesan tersebut semakin kuat setelah Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyinggung capaian akademik Wakil Menteri Pertanian RI, Dr. Sudaryono, B.Eng., MM, MBA, yang meraih gelar doktor dengan IPK sempurna 4.0. Di balik pujian itu, terselip penegasan penting, prestasi akademik dan jabatan struktural harus sejalan dengan dampak konkret di lapangan.
Menanggapi sorotan itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menilai pesan Presiden bukanlah sanjungan personal, melainkan pengingat langsung bagi seluruh pembantu Presiden agar tidak terjebak pada simbol jabatan.
“Presiden ingin memastikan setiap amanah benar-benar berujung pada perubahan nyata di lapangan, terutama bagi petani. Bukan sekadar gelar atau posisi,” ujar Wamen Sudaryono, yang akrab disapa Mas Dar.
Menurutnya, gaya komunikasi Presiden Prabowo yang kerap diselipi guyonan justru sarat makna kepemimpinan. Ketika Presiden menyinggung banyaknya jabatan ketua umum yang diembannya mulai dari organisasi tani hingga asosiasi strategis pertanian hal itu dipahami sebagai sentilan halus tentang konsistensi, disiplin, dan beratnya tanggung jawab.
Mas Dar mengakui, bagi dirinya yang lahir dan besar dari keluarga petani, jabatan bukanlah tujuan akhir. Keterlibatannya di berbagai organisasi seperti HKTI, APPSI, dan Tani Merdeka, lahir dari kesadaran bahwa persoalan klasik pertanian mulai dari air, pupuk, hingga kesejahteraan petani tidak bisa diselesaikan secara sektoral.
“Masalah pertanian menuntut kerja lintas jalur dan kolaborasi berlapis. Kalau hanya mengandalkan satu pintu, petani akan terus tertinggal,” ujarnya.
Di bawah arahan Presiden Prabowo, lanjut Sudaryono, Kementerian Pertanian terus mendorong pendekatan kerja lapangan serta penyederhanaan birokrasi agar persoalan petani dapat ditangani secara cepat, tepat, dan terukur.
“Kalau petani masih kesulitan air atau pupuk, berarti kita belum selesai bekerja. Itulah pesan utama Presiden,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa capaian akademik tidak boleh menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan pejabat publik. Ukuran sejati, menurutnya, terletak pada meningkatnya produktivitas pertanian serta kesejahteraan petani.
Pujian dan sentilan yang datang beriringan dari Presiden Prabowo Subianto, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, hingga Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dinilai sebagai satu garis tegas arah pemerintahan, tidak ada ruang bagi jabatan simbolik tanpa hasil nyata.
Tokoh yang disorot Presiden itu pun menegaskan komitmennya untuk terus turun ke lapangan, memastikan irigasi berjalan, distribusi pupuk tepat sasaran, dan petani dapat bekerja dengan tenang.
“Biarlah publik menilai banyaknya jabatan. Yang kami kejar adalah hasil panen yang melimpah dan kedaulatan pangan bangsa,” pungkas Mas Dar. (*)
Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 082387131915
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan RiauTime.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan


Tulis Komentar