Persatuan Indonesia

Andi Irwandi: Kritik Media Penting, Namun Perlu Dipahami Secara Utuh

DUMAI -- Pemerhati isu kebangsaan, Andi Irwandi, menegaskan bahwa kritik media terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan bagian penting dari demokrasi. Namun, menurutnya, kritik perlu disampaikan secara proporsional dan dipahami dalam konteks yang utuh agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Pernyataan ini disampaikan Andi menanggapi sejumlah pemberitaan yang menyebut Presiden Prabowo “terisolasi di ruang gema” atau echo chamber. Istilah tersebut belakangan ramai diperbincangkan, namun tidak selalu dipahami secara jelas oleh publik.

?Andi menjelaskan, echo chamber atau ruang gema adalah kondisi di mana seseorang hanya menerima informasi dan data tidak sesuai dengan lapangan. Dalam situasi ini, suara yang berbeda atau kritis sering kali tidak terdengar, sehingga gambaran yang diterima menjadi tidak utuh.

“Ruang gema biasanya menggambarkan situasi ketika seorang pemimpin hanya dikelilingi oleh pembantu penjilat,pencari muka, atau memberikan laporan yang tidak sesuai fakta demi menyenangkan pimpinan, bukan berdasarkan profesionalitas atau kepentingan yang lebih besar. Kritik tetap ada, tetapi tidak sampai atau tidak dipertimbangkan secara serius,” kata Andi menjelaskan.

Namun, menurut Andi, gambaran tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi pemerintahan saat ini. Ia menilai Presiden Prabowo masih aktif berdialog dengan berbagai pihak, mulai dari pejabat pemerintah, pelaku usaha, tokoh masyarakat, hingga kelompok yang memiliki pandangan berbeda.

Ia mencontohkan, perbedaan pendapat yang muncul terkait sejumlah kebijakan, seperti wacana evaluasi pemilihan kepala daerah atau pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), justru menunjukkan adanya ruang diskusi dan perdebatan kebijakan di ruang publik.

“Perbedaan pandangan dalam kebijakan publik itu wajar. Yang penting adalah bagaimana pemerintah mendengar, mengevaluasi, dan memperbaiki pelaksanaannya,” ujarnya.

Terkait Program Makan Bergizi Gratis, Andi menjelaskan bahwa kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak sebagai investasi jangka panjang sumber daya manusia. Ia mengakui kritik terhadap tata kelola dan pengawasan program tersebut perlu disampaikan, namun tidak seharusnya mengabaikan tujuan sosial yang ingin dicapai.

“Yang perlu dikawal adalah pelaksanaannya. Apakah tepat sasaran, transparan, dan akuntabel. Di situlah peran media dan masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut, Andi menilai sikap optimistis Presiden dalam menyampaikan kondisi bangsa sebaiknya dipahami sebagai bagian dari kepemimpinan. Menurutnya, optimisme penting untuk menjaga kepercayaan publik, selama dibarengi dengan langkah nyata dalam memperbaiki ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Ia menegaskan, demokrasi yang sehat bukan hanya soal kritik yang keras, tetapi juga soal pemahaman yang adil dan seimbang. Pemerintah perlu terus membuka diri terhadap masukan, sementara media dan masyarakat diharapkan menyampaikan kritik berdasarkan data, fakta, dan konteks yang utuh.



[Ikuti RiauTime.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 082387131915
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan RiauTime.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan