Nasional

Krisis Beras Negeri Jiran, Indonesia Berdiri di Garda Depan Ketahanan Pangan

Foto : Don Muzakir menerima Penghargaan Satyalencana Wida Karya dari Presiden Prabowo.

JAKARTA, riautime.com — Krisis beras kini menghantui Malaysia. Rak-rak penjualan kosong, harga meroket, dan warga kian kesulitan mendapatkan beras dengan harga terjangkau. Negeri Jiran terjebak dalam tekanan berat akibat kelangkaan pasokan beras lokal, ketergantungan tinggi pada impor, serta guncangan pasar global setelah India membatasi ekspor beras.

Dengan tingkat swasembada yang hanya sekitar 65 persen, Malaysia berada dalam posisi rentan. Ketika pasokan dunia terganggu, dampaknya langsung terasa di dapur rakyat. Kondisi ini diperparah oleh masalah produksi domestik, mulai dari perubahan iklim ekstrem, biaya tanam yang terus melonjak, hingga melemahnya daya saing petani lokal.

Di tengah situasi genting tersebut, Indonesia justru mencatat capaian berbeda. Ketua Umum Tani Merdeka Indonesia (TMI), Don Muzakir, menegaskan bahwa Indonesia kini berada pada posisi aman secara pangan.

“Alhamdulillah, Indonesia sudah swasembada pangan. Ini bukan kebetulan, melainkan buah dari kerja keras petani dan keberpihakan negara pada kemandirian pangan,” ujar Don Muzakir.

Namun, Don mengingatkan bahwa krisis yang dialami Malaysia harus menjadi pelajaran serius bagi Indonesia. Menurutnya, kemandirian pangan bukan sekadar angka statistik, melainkan benteng utama yang melindungi rakyat dari gejolak global.

“Indonesia bisa membantu, tetapi jangan sampai rakyat sendiri dikorbankan. Stok nasional dan harga di dalam negeri adalah harga mati. Petani Indonesia wajib dilindungi,” tegasnya.

Pemerintah Indonesia pun menegaskan sikap waspada. Setiap wacana ekspor beras ke Malaysia akan dihitung secara ketat dan berlapis, dengan prinsip utama menjaga cadangan nasional tetap aman dan stabilitas harga beras di pasar domestik.

Krisis beras Malaysia kini menjadi alarm keras bagi kawasan. Ketika perubahan iklim semakin brutal dan rantai pasok global mudah terguncang, negara yang gagal membangun kedaulatan pangan akan terjerumus dalam krisis berkepanjangan.

Situasi ini sekaligus menegaskan satu pesan penting: pangan adalah soal hidup-mati sebuah bangsa, dan kemandirian pangan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

 



[Ikuti RiauTime.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 082387131915
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan RiauTime.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan