JPM, Inovasi Olahan Pinang Karya Pemuda Desa Semukut
KETIKA harga pinang anjlok hingga hanya berkisar Rp3.000-Rp4.000 per kilogram pada 2024, banyak petani memilih menunggu keadaan membaik. Namun, bagi Bahrul Hayat, situasi itu justru menjadi titik awal lahirnya sebuah inovasi.
Pemuda asal Desa Semukut, Kecamatan Pulau Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, tersebut tak ingin komoditas andalan masyarakat hanya dijual sebagai bahan mentah dengan harga yang terus berfluktuasi. Dari kegelisahan itulah ia mulai mencari cara agar pinang memiliki nilai tambah.
Bahrul yang memiliki kebun sekitar satu hektare dengan kurang lebih 500 batang pinang mulai mempelajari berbagai referensi. Salah satunya melalui YouTube.
Namun, dari berbagai video yang ia temukan, olahan pinang hanya sebatas bandrek. Kondisi itu memunculkan ide yang belum pernah ia jumpai sebelumnya, yakni mengolah pinang menjadi minuman jus.
"Tantangannya adalah bagaimana agar rasanya tidak pahit. Akhirnya saya mencoba memadukan pinang dengan gula, susu, teh, dan kayu manis," cerita Bahrul saat ditemui sejumlah wartawan di Kantor Desa Semukut, kemarin.
Perjalanannya tidak mudah. Berulang kali ia mencoba berbagai komposisi hingga akhirnya menemukan cita rasa yang dapat diterima.
Bagi Bahrul, inovasi bukan sekadar menghadirkan produk baru, melainkan membuktikan bahwa hasil perkebunan desa dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
Usaha itu mulai membuahkan hasil. Pada Mei 2024, ia resmi meluncurkan jus pinang muda dalam kemasan botol 300 ml dengan harga jual Rp5.000 per botol.
"Saya juga tidak menyangka, begitu luncur jus pinang muda ini, waktu itu masih jus pinang cair, alhamdulillah disambut baik masyarakat," ujarnya.
Seiring waktu, Juice Pinang Muda (JPM) semakin dikenal di Desa Semukut hingga desa-desa sekitar.
Berbagai testimoni pun bermunculan. Sebagian konsumen mengaku tubuh terasa lebih segar setelah mengonsumsinya, sementara yang lain merasakan stamina meningkat.
"Ada juga kalangan ibu-ibu itu menyampaikan ke saya, bahwa setelah beberapa kali konsumsi jus pinang muda ini katanya membantu melancarkan siklus haid," katanya.
Meski mendapat sambutan positif dari masyarakat, Bahrul kembali dihadapkan pada tantangan baru.
Jus pinang dalam bentuk cair memiliki masa simpan yang terbatas, hanya sekitar 24 jam pada suhu ruang. Jika disimpan di dalam kulkas atau freezer, daya tahannya dapat mencapai sekitar tiga hari. Keterbatasan tersebut menjadi kendala utama untuk memasarkan produknya ke wilayah yang lebih jauh.
Kondisi itu tidak membuatnya berhenti berinovasi. Ia kembali bereksperimen, dan pada tahun 2025 berhasil menghadirkan JPM dalam bentuk serbuk yang lebih praktis dan memiliki masa simpan lebih lama.
Produk tersebut kemudian dipasarkan dalam kemasan saset seharga Rp5.000 per bungkus atau Rp25.000 per kotak berisi enam saset. Bentuk baru itu membuka peluang pemasaran yang lebih luas dibandingkan produk cair.
Dalam proses pengembangannya, Bahrul mengajak dua rekannya bergabung. Mereka bersama-sama memproduksi sekaligus memperkenalkan JPM kepada masyarakat.

Namun, perjalanan usaha itu tak selalu mulus. Memasuki 2026, aktivitas produksi terhenti. Bahrul mengakui mulai patah semangat.
Selain proses pembuatan masih dilakukan secara manual, pasar yang berhasil dijangkau juga masih didominasi konsumen di Desa Semukut dan wilayah sekitarnya.
Ia sebenarnya telah mencoba memperluas pemasaran melalui marketplace seperti Shopee. Namun, produk JPM belum dapat dipasarkan secara luas karena masih terkendala izin edar BPOM.
"Saya sudah coba ingin mengurus izin BPOM untuk JPM sachet ini, namun salah satu syarat agak berat itu harus memiliki rumah produksi permanen, sementara hingga kini seluruh proses pembuatan JPM masih dilakukan di rumah," jelasnya.
Di sisi lain, harga pinang kering yang kini mencapai sekitar Rp20.000 per kilogram membuatnya kembali fokus mengolah hasil panen pinang tua.
"Karena harga jual pinang kering saat ini juga mahal, jadi saya lebih fokus mengolah pinang tua," ujarnya.
Meski demikian, Bahrul mengaku berbagai dukungan yang datang membuat semangatnya kembali tumbuh untuk melanjutkan produksi JPM.
"Kunjungan abang-abang ke sini juga mendorong kembali semangat saya," katanya.
Ia berharap mendapat dukungan dari berbagai pihak agar JPM semakin dikenal luas. Bantuan mesin penghancur juga sangat dibutuhkan agar produksi menjadi lebih cepat dan kapasitas meningkat.
Kepala Desa Semukut, Firmansyah, menilai langkah Bahrul membuktikan bahwa anak muda desa mampu melahirkan inovasi dari potensi lokal.
"Kami bangga karena ada anak muda yang mau berpikir kreatif. Ini tentunya menjadi memotivasi bagi kita semua," katanya.
Menurut Firmansyah, pemerintah desa terus mendukung pengembangan JPM melalui berbagai kegiatan promosi. Salah satunya saat Seleksi Tilawatil Quran (STQ) tingkat desa, ketika itu jus pinang cair disajikan kepada dewan hakim sebagai minuman pendamping selain kopi.
"Kami ingin masyarakat mengenal bahwa desa kami memiliki produk lokal, inovasi pemuda yang layak dikembangkan," ujarnya.
Dukungan serupa datang dari Camat Pulau Merbau, Hermansyah. Menurutnya, pemerintah kecamatan juga terus membuka akses promosi agar JPM semakin dikenal.
"Kemarin saat MTQ Riau di Kuansing, saya koordinasi dengan Tim Penggerak PKK Kabupaten Kepulauan Meranti agar JPM dapat ikut ditampilkan pada bazar. Alhamdulillah, kita bawa produknya dan terjual habis," katanya.
Ia menilai potensi seperti JPM harus terus didorong agar tidak berhenti hanya sebagai produk lokal yang dikenal di kampung sendiri.
"Karena itu kami terus memotivasi Bahrul dan kawan-kawan agar tetap semangat mengembangkan usahanya," ujar Hermansyah.
Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Kepulauan Meranti, Eko Priyono, menegaskan pemerintah daerah berkomitmen mendampingi pelaku UMKM agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Namun, menurutnya, keberhasilan tersebut juga bergantung pada kesiapan pelaku usaha itu sendiri. Seperti halnya memenuhi berbagai persyaratan legalitas dan standar produksi.
"Yang pertama, pelaku UMKM harus siap dan punya niat untuk mengembangkan usahanya. Kemudian, mereka juga harus siap memenuhi persyaratannya," ujarnya.
Ia menjelaskan, sertifikat halal, PIRT hingga BPOM menjadi syarat penting apabila produk ingin masuk ke minimarket maupun pasar modern.
"Pada dasarnya dinas siap berupaya membantu memfasilitasi sepanjang pelaku usaha menyampaikan kebutuhannya kepada kami. Sertifikasi halal untuk UMKM saat ini juga tersedia program gratis," katanya.
Eko mengakui salah satu kendala terbesar UMKM di Kepulauan Meranti adalah belum terpenuhinya standar produksi, terutama rumah produksi yang harus terpisah dari aktivitas rumah tangga.
"Usaha memang pasti ada risikonya. Untuk BPOM misalnya, yang penting ada tempat produksi khusus, tidak bercampur dengan aktivitas rumah tangga. Bangunannya tidak harus mewah, bisa permanen dari kayu, yang penting memenuhi standar sehingga proses produksinya lebih higienis," jelasnya.
Menurut dia, legalitas masih menjadi hambatan utama dalam memperluas pemasaran produk karena banyak calon pembeli maupun mitra usaha terlebih dahulu menanyakan kelengkapan izin.
"Kalau legalitasnya sudah lengkap, perdagangan tidak hanya terbatas di Meranti, tetapi juga bisa dipersiapkan untuk pasar yang lebih luas, bahkan lintas daerah hingga luar negeri. Contohnya produk Misagu Boedjang di Desa Gogok," katanya.
Untuk memperkuat daya saing UMKM, Dinas Koperasi juga mendorong Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) menjadi inkubator sekaligus mitra pemasaran produk-produk unggulan Meranti.
"Kami ingin BUMD menjadi bapak angkat bagi UMKM, sehingga pelaku usaha memiliki pendamping yang membantu membuka akses pasar dan memperkuat pemasaran produk. Selain itu juga membuka peluang pendapatan bagi BUMD," tuturnya.
Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, Lianita Muharni, menilai inovasi yang dilakukan Bahrul merupakan contoh nyata bagaimana kreativitas mampu meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu memberikan pendampingan secara berkelanjutan agar produk seperti JPM tidak berhenti pada tahap inovasi, tetapi mampu berkembang menjadi usaha yang berdaya saing.
"Potensi seperti ini harus kita dukung bersama. Kalau kualitas produknya terus ditingkatkan dan legalitasnya lengkap, saya optimistis JPM bisa menjadi ikon baru olahan pinang dari Meranti sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat," pungkasnya. (ADV)
Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 082387131915
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan RiauTime.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan


Tulis Komentar