News

UMKM Kerupuk Tempe Sagu Meranti Bersiap Tembus Pasar Lebih Luas

TIGA pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pengolah kerupuk tempe sagu di Desa Kundur, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, menerima bantuan peralatan produksi melalui Program Light Your Green Action & Innovation (LYGA) bertajuk Sagu Tiada Ragu yang dilaksanakan Rumah BUMN Riau dengan dukungan PT PLN (Persero).

Program tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas produksi UMKM berbasis sagu melalui penyediaan mesin dan peralatan produksi. Kabupaten Kepulauan Meranti sebagai salah satu daerah penghasil sagu dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan produk olahan bernilai tambah.

Tiga UMKM penerima bantuan yakni Qeyla Best, Dapoer AA, dan Sagu Riau Maju Jaya. Bantuan yang diberikan meliputi mesin pemotong adonan, mesin spinner (pengering makanan), serta sejumlah peralatan dapur dan dukungan kemasan produk untuk meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas hasil olahan.

Pemilik UMKM Qeyla Best, Suhaila (35), kepada wartawan, Ahad (12/7/2026), mengatakan sebelum menerima bantuan, proses produksi kerupuk tempe sagu masih dilakukan secara manual, terutama pada tahap pemotongan adonan.

"Saya bersyukur bisa memperoleh mesin produksi. Dengan adanya mesin ini, insya Allah produksi kami bisa meningkat," ujar Suhaila.

Usaha yang berlokasi di Jalan Poros Sidoharjo, Desa Kundur itu telah dirintis sekitar enam tahun lalu sebelum pandemi Covid-19. Produksi sempat terdampak pandemi, namun kembali dijalankan sejak 2021 hingga kini.

Suhaila mengatakan, saat ini Qeyla Best memproduksi kerupuk tempe sagu sekitar tiga kali dalam sepekan atau sekitar sembilan kali dalam sebulan. Dari jumlah tersebut, rata-rata dihasilkan sekitar 15 kilogram kerupuk siap jual dengan omzet sekitar Rp1,5 juta per bulan.

Produk kerupuk tempe sagu dipasarkan di wilayah Tebingtinggi dan Tebingtinggi Barat. Harga jual awal sebesar Rp15 ribu per bungkus, namun kini naik menjadi Rp17 ribu akibat meningkatnya biaya produksi, terutama harga minyak goreng.

Menurut Suhaila, kendala utama yang dihadapi pelaku usaha saat ini adalah sulitnya memperoleh minyak goreng dengan harga terjangkau. Kondisi tersebut membuat usahanya beralih menggunakan minyak goreng premium sebagai bahan produksi.

"Kalau minyak goreng kembali mudah didapat dan harganya stabil, kami bisa menurunkan harga jual produk," katanya.

Ia menambahkan, ketika permintaan meningkat, proses produksi turut melibatkan beberapa warga sekitar untuk membantu pengerjaan. Sementara itu, suaminya bekerja sebagai buruh harian di kampung.

Suhaila berharap harga kebutuhan pokok, khususnya minyak goreng, dapat kembali stabil sehingga pelaku UMKM dapat menjaga harga jual produk tetap terjangkau bagi masyarakat.

Menurutnya, bantuan tersebut membuat proses produksi menjadi lebih cepat, efisien, dan diharapkan mampu meningkatkan kualitas serta daya saing produk kerupuk tempe sagu di pasaran.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Tenaga Kerja Kabupaten Kepulauan Meranti, Eko Priyono mengatakan, pemerintah daerah berkomitmen mendampingi pelaku UMKM agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Namun, kesiapan pelaku usaha dalam memenuhi persyaratan legalitas menjadi faktor penting.

"Pelaku UMKM harus siap mengembangkan usahanya dan memenuhi persyaratan yang dibutuhkan," ujarnya.

Selain sertifikat halal dan PIRT, izin BPOM menjadi syarat penting apabila produk ingin dipasarkan ke minimarket maupun pasar modern. Pemerintah daerah, kata Eko, siap memfasilitasi proses tersebut, termasuk melalui program sertifikasi halal gratis bagi UMKM.

Ia juga menyebutkan bahwa salah satu kendala utama UMKM di Kepulauan Meranti adalah belum terpenuhinya standar tempat produksi yang harus terpisah dari aktivitas rumah tangga agar memenuhi persyaratan higienitas.

"Kalau legalitasnya sudah lengkap, perdagangan tidak hanya terbatas di Meranti, tetapi juga bisa dipersiapkan untuk pasar yang lebih luas, bahkan lintas daerah hingga luar negeri" sebut Eko.

Untuk memperkuat daya saing UMKM, Dinas Koperasi juga mendorong Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) menjadi mitra pemasaran sekaligus inkubator bagi produk-produk unggulan daerah.

Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, Lianita Muharni, menilai inovasi warga Kundur, Kecamatan Tebingtinggi Barat dalam mengolah tempe untuk meraih pundi-pundi rupiah sangat baik dan harus dikembangkan lagi.

Kepada Pemerintah Daerah Kepulauan Meranti, Lianita juga berharap agar bisa memberikan pendampingan secara berkelanjutan. Selain mengadakan pelatihan dan membantu perizinan, juga terjun langsung dalam mempromosikan produk-produk hasil olahan masyarakat.

"Potensi seperti ini harus kita dukung bersama. Kalau kualitas produknya terus ditingkatkan dan pemerintah daerah memberikan dukungan kepada pelaku usaha, kami di legislatif siap mendukung upaya meningkatkan perekonomian masyarakat," ujarnya. (ADV)



[Ikuti RiauTime.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 082387131915
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan RiauTime.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan