News

Potensi Teri Bilis Teluk Ketapang Menjanjikan

TERNYATA Desa Teluk Ketapang, Kecamatan Pulau Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, menyimpan potensi besar sebagai salah satu sentra penghasil ikan bilis (teri) berkualitas di Riau. Kekayaan sumber daya laut yang dimiliki menjadi tumpuan ekonomi masyarakat pesisir sekaligus membuka peluang besar bagi pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis hasil perikanan.

Selama puluhan tahun, para nelayan Teluk Ketapang menggantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan bilis. Salah satunya Azman (38), Ketua Kelompok Nelayan Ketapang Bersama, yang telah menekuni profesi sebagai nelayan selama kurang lebih 20 tahun.

Menurut Azman, melaut bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga tentang keyakinan terhadap rezeki yang diberikan alam.

"Namanya rezeki ghaib. Kadang ikan banyak, kadang tidak ada sama sekali. Tidak bisa diprediksi," ujarnya.

Dalam kondisi normal, nelayan mampu menghasilkan sekitar 30–40 kilogram ikan bilis setiap hari dengan harga jual sekitar Rp70 ribu per kilogram. Saat musim ikan tiba, hasil tangkapan bahkan dapat mencapai 100 kilogram per hari.

Namun, besarnya hasil tangkapan tidak selalu berbanding lurus dengan pendapatan. Ketika produksi melimpah, harga jual justru cenderung turun karena pasokan di pasar meningkat.

Proses pengolahan ikan bilis masih mengandalkan cara tradisional. Setelah ditangkap menggunakan jaring gumbang, ikan direbus selama lima hingga sepuluh menit menggunakan tungku berbahan bakar arang, kemudian dijemur di bawah sinar matahari sekitar lima jam hingga kering.

Ketergantungan terhadap cuaca menjadi tantangan terbesar bagi para pelaku usaha. Saat musim hujan, proses pengeringan terhenti sehingga produksi ikut menurun.

Karena itu, Azman berharap adanya dukungan pemerintah berupa oven pengering atau teknologi pengolahan yang lebih modern agar proses produksi tetap berjalan sepanjang tahun.

"Kalau hujan, kami sangat membutuhkan oven supaya produksi tetap berjalan. Listrik di sini sudah aman, jadi tinggal dukungan peralatannya," katanya.

Selain ikan bilis kering, Kelompok Nelayan Ketapang Bersama juga memproduksi terasi yang telah dikenal masyarakat. Sejumlah peralatan produksi bahkan telah menggunakan mesin sehingga proses pengolahan menjadi lebih cepat dan efisien.

Sekretaris Desa Teluk Ketapang, Muhammad Husni, mengatakan masyarakat masih memanfaatkan tiang dari batang nibung sebagai penyangga tempat penjemuran ikan. Menurutnya, pembangunan fasilitas penjemuran yang lebih layak akan sangat membantu menjaga kualitas produk sekaligus meningkatkan kapasitas produksi.

"Kami berharap ada fasilitas penjemuran yang lebih layak agar kualitas ikan bilis tetap terjaga dan produksi masyarakat bisa meningkat," ujar Muhammad Husni.

Potensi tersebut mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kecamatan Pulau Merbau. Camat Pulau Merbau, Hermansyah, SH, mengatakan sejak awal bertugas dirinya berkomitmen mempromosikan seluruh produk unggulan daerah.

"Sejak awal saya bertugas, saya ingin produk unggulan Pulau Merbau dikenal lebih luas. Karena itu, kami berupaya membawa produk UMKM ke berbagai ajang promosi," kata Hermansyah.

Tanpa sepengetahuan para pelaku UMKM, pihak kecamatan bahkan membawa berbagai produk unggulan Pulau Merbau dalam pameran Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Provinsi Riau di Kabupaten Kuantan Singingi. Produk-produk tersebut juga dibuatkan kemasan yang lebih menarik.

Hasilnya sangat menggembirakan. Seluruh produk yang dipamerkan habis terjual sebelum kegiatan berakhir.

Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa produk UMKM Pulau Merbau memiliki daya saing dan diminati pasar luar daerah. Menurut Hermansyah, langkah berikutnya adalah memperkuat kualitas produk melalui kelengkapan administrasi, legalitas, serta peningkatan kapasitas produksi agar mampu menembus pasar yang lebih luas.

Penguatan Lembaga UMKM

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Tenaga Kerja dan UMKM Kabupaten Kepulauan Meranti, Eko Priono, menegaskan bahwa penguatan kelembagaan menjadi langkah awal yang harus dilakukan para pelaku usaha.

"Penguatan kelembagaan adalah langkah awal. Kalau kelompok usahanya kuat, pengurusan legalitas, kemasan, dan akses pasar akan lebih mudah," tegas Eko Priono.

Menurutnya, pembentukan kelompok usaha akan mempermudah pengurusan berbagai legalitas seperti PIRT, sertifikasi BPOM, sertifikat halal, hingga pengembangan kemasan produk yang lebih menarik.

Selain itu, pemerintah juga mendorong pemanfaatan Rumah BUMN, kolaborasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta kerja sama dengan BUMD untuk memperluas jaringan pemasaran sehingga produk UMKM Meranti mampu bersaing di pasar regional maupun nasional.

Senada dengan itu, Kabid UMKM Dinas Koperasi, Tenaga Kerja dan UMKM Kabupaten Kepulauan Meranti, Eko Setiawan, menilai perlunya pertemuan rutin bersama pelaku UMKM agar berbagai kendala di lapangan dapat didiskusikan dan dicarikan solusi bersama.

"Kami perlu pertemuan rutin dengan pelaku UMKM agar setiap kendala di lapangan bisa dibahas bersama dan segera dicarikan solusinya," ujar Eko Setiawan.

Dukungan terhadap UMKM pesisir juga datang dari Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, Lianita Muharni. Melalui program pokok-pokok pikirannya (pokir), ia telah menyalurkan bantuan lima unit mesin penggiling udang untuk pembuatan terasi kepada Kelompok Nelayan Ketapang Bersama.

"Saya akan terus memperjuangkan bantuan secara bertahap sesuai kemampuan daerah, karena UMKM pesisir harus kita dorong agar masyarakat semakin sejahtera," tegas Lianita Muharni.

Ia menegaskan akan terus berupaya memperjuangkan bantuan secara bertahap sesuai kemampuan keuangan daerah, karena pengembangan UMKM dinilai menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Besarnya potensi ikan bilis Teluk Ketapang menunjukkan bahwa sektor perikanan bukan hanya menjadi sumber mata pencaharian masyarakat, tetapi juga memiliki peluang besar menjadi komoditas unggulan Kabupaten Kepulauan Meranti.

Dengan dukungan sarana produksi modern, fasilitas pengeringan, peningkatan kualitas kemasan, legalitas produk, serta akses pemasaran yang lebih luas, ikan bilis dan terasi Teluk Ketapang diyakini mampu berkembang menjadi produk unggulan yang memberikan nilai tambah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir secara berkelanjutan. (ADV)



[Ikuti RiauTime.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 082387131915
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan RiauTime.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan