Prabowo untuk Indonesia

Presiden Prabowo : Adab dan Arah Peradaban Bangsa

Presiden Prabowo mwnghadiri Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026

DUMAI -- Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul pekan ini mungkin bagi sebagian orang hanya agenda rutin kenegaraan. Namun bagi saya, ada pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar sinkronisasi program pusat dan daerah. Di forum itu, Presiden Prabowo Subianto memperlihatkan satu hal yang mulai jarang dibicarakan dalam politik modern: "kepemimpinan yang berakar pada adab dan budaya."

Kita hidup di zaman ketika politik sering terjebak pada hitung-hitungan kekuasaan, angka pertumbuhan, dan target statistik. Semua itu penting, tentu saja. Tetapi bangsa besar tidak pernah berdiri hanya di atas fondasi teknokrasi. Ia bertahan karena memiliki jiwa. Dan jiwa bangsa Indonesia adalah budayanya.

Dalam forum tersebut, Presiden Prabowo tidak hanya berbicara tentang swasembada pangan, investasi, atau program strategis nasional. Ia menyampaikan visi kemajuan yang dibingkai dalam nilai kemanusiaan dan jati diri bangsa. Pernyataannya tentang Indonesia yang ingin maju dan modern, namun tetap memastikan kualitas hidup rakyat meningkat secara merata, menunjukkan satu pendekatan yang utuh, Pembangunan sebagai proses memanusiakan manusia.

Yang menarik justru terlihat dari hal yang tampak sederhana: SIKAP. cara Presiden berinteraksi, gestur yang terjaga, serta penghormatan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X menjadi simbol bahwa kekuasaan tidak membuatnya tercerabut dari akar budaya. Jabat tangan itu lebih dari seremoni, ia adalah pengingat bahwa republik ini dibangun bukan hanya oleh sistem politik, tetapi oleh warisan peradaban.

Di sinilah letak makna pentingnya. Modernisasi sering kali ditafsirkan sebagai meninggalkan tradisi. Padahal, bangsa yang kehilangan akar budayanya akan kehilangan arah moral. Dalam pidato Presiden, saya melihat upaya menyampaikan bahwa tradisi bukan beban masa lalu, melainkan fondasi etika dalam mengambil keputusan hari ini.

Hal lain yang patut dicermati adalah penegasan kembali politik luar negeri bebas aktif di tengah ketegangan geopolitik global. Sikap ini bukan sekadar strategi diplomasi, melainkan cerminan kepercayaan diri bangsa yang tidak ingin terseret arus blok kekuatan dunia. Indonesia ingin bersahabat dengan semua, tetapi tunduk pada kepentingan nasionalnya sendiri. Itu adalah sikap bangsa yang dewasa.

Tentu, tantangan ke depan tidak ringan. Visi Indonesia Emas 2045 membutuhkan kerja nyata, bukan hanya narasi. Sinkronisasi pusat dan daerah, pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, serta pemerataan kesejahteraan akan menjadi ujian sesungguhnya. Namun arah yang ditunjukkan Presiden memberi satu sinyal penting bahwa, pembangunan tidak boleh kehilangan kompas moralnya.

Bagi saya, inilah inti kepemimpinan negarawan, bukan sekadar memimpin dengan kekuasaan, tetapi dengan kesadaran sejarah dan tanggung jawab peradaban. Pemimpin semacam ini tidak hanya memikirkan masa jabatan, tetapi jejak nilai yang ditinggalkan bagi generasi mendatang.

Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Indonesia juga tidak kekurangan sumber daya. Yang sering kita rindukan adalah kepemimpinan yang mampu menjembatani kemajuan dengan jati diri. Jika pesan yang disampaikan di Sentul itu benar-benar diwujudkan dalam kebijakan nyata, maka kita bukan hanya sedang membangun negara maju, tetapi juga menjaga Indonesia tetap berjiwa dan Indonesia akan modern, tetapi tetap beradab.

Oleh: Andi Irwandi – Pemerhati Isu Kebangsaan



[Ikuti RiauTime.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 082387131915
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan RiauTime.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan