Opini

Kampong Lorong Buangkok: Kampung Tradisional Terakhir yang Masih Bertahan di Singapura

Penulis: Elmen Supandi

SINGAPURA – Terletak di antara perumahan bertingkat tinggi modern dan jalan raya sibuk di wilayah timur laut Singapura, berdiri Kampong Lorong Buangkok — yang dikenal luas sebagai satu-satunya kampung tradisional yang tersisa di negara ini. Sebagai pengingat yang hidup tentang kehidupan sebelum perkembangan kota yang pesat, pemukiman kecil ini telah menjaga semangat Singapura masa lampau selama lebih dari satu abad.

Asal-Usul dan Sejarah

Tanah ini pertama kali dimiliki pada tahun 1934 oleh Ng Yek Seng, seorang pedagang kayu. Pada tahun 1950-an, kepemilikan beralih ke keluarga Sng, yang hingga kini masih mengurus dan menjaga tempat ini. Terlihat seorang perempuan tua dengan sepeda di foto tersebut, ialah aunty Me Hong, dia adalah anak dari keluarga Sng yang amanah menjaga kampung itu. Dahulu puluhan keluarga tinggal di sini dan bekerja sebagai petani, nelayan, serta pedagang kecil. Luas wilayah kampung dulunya jauh lebih besar. Seiring berjalannya waktu, daerah sekitarnya berubah menjadi kawasan pemukiman baru seperti Hougang dan Sengkang, namun Kampong Lorong Buangkok tetap utuh — berkat tekad keluarga pemilik tanah untuk mempertahankannya apa adanya.

Kehidupan Saat Ini

Dengan luas sekitar 1,2 hektar, saat ini tinggal sekitar 25 keluarga yang terdiri dari masyarakat Melayu dan Tionghoa, sebagian besar sudah bermukim di sana selama beberapa generasi. Rumah-rumahnya berupa bangunan kayu sederhana dengan atap seng; beberapa masih menggunakan sumur dan kamar mandi bersama, berbeda dengan fasilitas lengkap yang lazim ditemukan di tempat lain di Singapura. Kehidupan berjalan tenang dan santai: tetangga saling mengenal dengan baik, anak-anak bermain di jalan tanah, pohon mangga, kelapa, dan nangka tumbuh di mana-mana, dan suara ayam berkokok masih terdengar jelas saat fajar menyingsing.

Sewa tempat tinggal di sini tetap sangat murah, mulai dari 6 dolar hingga 30  dolar Singapura per bulan — sehingga warga lanjut usia dan keluarga berpenghasilan rendah dapat terus menetap. “Kami jarang mengunci pintu; semua saling menjaga dan membantu satu sama lain,” ujar salah satu warga lama. “Itulah adat hidup orang kampung.”

Masa Depan yang Belum Pasti

Selama bertahun-tahun, kampung ini menjadi perhatian pecinta warisan budaya, fotografer, dan peneliti yang khawatir suatu saat tempat ini akan hilang selamanya. Pemerintah menyatakan belum ada rencana segera untuk mengambil alih atau mengubah fungsi tanah ini, namun hingga saat ini belum ada perlindungan hukum yang menjamin kelestariannya selamanya. Setiap kali muncul kabar tentang peninjauan penggunaan lahan, kembali muncul perdebatan: apakah kampung ini harus dilestarikan sebagai monumen budaya yang hidup, atau diserahkan untuk pembangunan perumahan dan fasilitas umum?

Katanya dulu tanah tersebut sempat ditawari pemerintah senilai $.70.000,000 (tujuh puluh juta dolar Singapura), namun ditolak oleh Aunti Mee Hong, karena tanah tersebut adalah warisan yang diamanahkan oleh keluarganya untuk dijaga, bukan untuk dijual. "Government pernah menawarkan tanah ini untuk dibeli supaya bisa dibangun bangunan megah, mereka menawarkan seharga tujuh puluh juta dolar Singapura. Tapi saya bilang sama mereka, bahwa tanah ini bukan tanah milik saya, ini adalah tanah keluarga saya, saya diamanahkan untuk menjaga, bukan untuk menjual nya", ujar Aunti Mee Hong.

Para pelestari budaya menegaskan bahwa Kampong Lorong Buangkok bukan sekadar kumpulan bangunan tua — ia adalah saksi nyata kebersamaan dan akar budaya Singapura, perpaduan yang unik dengan wajah kota modern yang megah. “Jika tempat ini hilang, generasi mendatang hanya akan membaca bagaimana nenek moyang mereka hidup dari buku saja,” kata juru bicara Masyarakat Pelestari Warisan Singapura. “Melestarikan kampung ini berarti menjaga salah satu bagian penting dari sejarah kita tetap hidup.”

Simbol Keteguhan Hati

Kini Kampong Lorong Buangkok menjadi sebuah keunikan tersendiri: sebuah kampung tua yang damai tetap berdiri kokoh di tengah salah satu kota paling maju di dunia. Bagi siapa saja yang berkunjung, tempat ini memberikan gambaran nyata tentang keramahan, kesederhanaan, dan ikatan persaudaraan yang kuat yang menjadi ciri khas Singapura masa awal. Apapun yang akan terjadi di masa depan, kampung kecil ini telah mengukir namanya — bukan hanya dalam peta, melainkan dalam ingatan seluruh bangsa.



[Ikuti RiauTime.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 082387131915
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan RiauTime.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan